Dari Balik Meja Kantor ke Dapur Produksi: Cerita Fiqri Membangun Dimsum Endut
Di balik rutinitas sebagai pekerja kantoran dengan jam kerja 8 sampai 5, ada cerita lain yang tidak banyak orang lihat. Setelah pulang kerja, sebagian orang memilih istirahat. Namun bagi Fiqri Rachmandi, malam justru menjadi waktu yang tepat untuk membangun bisnis. Dari dapur sederhana hingga puluhan cabang, Dimsum Endut tumbuh beriringan dengan kesibukannya sebagai pegawai bank.
Kisah ini membuktikan bahwa di tengah padatnya kehidupan pekerja kantoran, selalu ada ruang untuk membangun mimpi, selama siap dengan komitmen dan pengorbanannya.
Fiqri Rachmandi, Pekerja Kantoran di Balik Brand Dimsum Endut
Fiqri Rachmandi adalah salah satu founder Dimsum Endut. Dengan latar belakang finance banking, kesehariannya diisi dengan pekerjaan kantor dari pagi hingga sore. Bisnis dimsum yang ia jalani bukan berangkat dari rencana besar, melainkan dari kebiasaan sederhana, yakni nongkrong dan ngemil bersama dua rekannya.
“Awal mulanya dimsum itu karena kami bertiga sering nongkrong, suka ngemil makan dimsum. Kita pengin bikin bisnis yang bukan makanan berat, tapi bisa dicemil setiap hari”, ujarnya.
Dari obrolan santai itu lah, Dimsum Endut lahir, dengan konsep yang dekat dengan keseharian banyak orang.
Rutinitas Ganda: Bekerja di Kantor, Mengelola Bisnis Setelah Jam Kerja
Menjalani dua peran sekaligus tentu bukan hal mudah. Setelah jam kerja selesai, Fiqri masih harus memikirkan operasional bisnis. Di masa awal, hampir seluruh proses ia tangani langsung bersama dua founder lainnya, mulai dari produksi hingga pengelolaan.
Ia mengatakan, “Gue kerja dari jam 8 sampai 5, nah setelah jam kerja baru bisa ngurusin dimsum. Capeknya sih di pembagian waktu. Waktu untuk kerja, bisnis, dan keluarga itu benar-benar harus dikontrol.”
Fiqri menambahkan bahwa benturan kepentingan juga kerap terjadi. Urusan kantor yang mendesak, kendala bisnis, dan kebutuhan keluarga bisa datang bersamaan. Namun seiring waktu, ia terus belajar, hingga bisnis perlahan berjalan lebih mandiri.
Membagi Peran sebagai Pekerja, Pengusaha, dan Kepala Keluarga
Selain sebagai pekerja dan pelaku usaha, Fiqri juga menjalani peran sebagai suami dan kepala keluarga. Fase adaptasi ini diakuinya tidak mudah, bahkan sempat menimbulkan tekanan dari lingkungan sekitar.
“Dulu sempat dianggap remeh juga. Buat apa sudah disekolahin tinggi-tinggi, ujungnya malah dagang”, ungkapnya.
Namun di balik itu, ada visi jangka panjang yang ia pegang teguh. Bagi Fiqri, bisnis bukan sekadar side hustle, melainkan bekal masa depan untuk keluarga. Ia memikirkan kehidupan setelah pensiun, ketika penghasilan tetap dari pekerjaan kantoran sudah tidak ada lagi.
Dengan kesadaran itu, ia belajar mengatur prioritas, memastikan waktu untuk keluarga tetap ada, terutama di akhir pekan, tanpa mengabaikan tanggung jawab bisnis dan pekerjaan.
Mengelola dan Mengembangkan Bisnis F&B Hingga Puluhan Cabang
Perjalanan Dimsum Endut tentu tidak selalu mulus. Setelah masa pandemi berakhir, bisnis online sempat mengalami penurunan karena perubahan perilaku konsumen. Namun Fiqri memilih bertahan, membangun tim yang solid, dan memperkuat sistem operasional.
Kini, Dimsum Endut telah berkembang menjadi 21 cabang. Menurut Fiqri, kunci mengelola banyak cabang bukan hanya soal produk, tapi juga manusia di baliknya; mulai dari membangun tim yang saling percaya, terbuka, hingga terus melakukan inovasi dan beradaptasi dengan selera pelanggan.
Pesan untuk Pekerja Kantoran yang Ingin Mulai Bisnis
Di akhir obrolan, Fiqri menyampaikan pesan sederhana namun kuat untuk para pekerja yang masih ragu memulai usaha. Ia menyampaikan, “Jangan takut mulai. Percaya diri, maju aja dulu. Lebih baik gagal tapi kita sudah mencoba, daripada nggak pernah mulai dan kita nggak pernah tahu pasarnya.”
Kisah Fiqri dan Dimsum Endut menjadi pengingat bahwa membangun bisnis tidak selalu harus meninggalkan pekerjaan utama. Dengan keberanian untuk mulai, kesiapan berproses, dan kemauan belajar, mimpi bisa tumbuh bahkan dari sela-sela rutinitas kantor.
Di balik bisnis yang terus berkembang, ada kebutuhan akan sistem dan operasional yang semakin rapi. Setiap usaha memiliki tantangan yang berbeda, terutama saat mulai bertumbuh dan mengelola banyak cabang. Karena itu,Luma hadir membantu pelaku usaha menemukan solusi perangkat dan kebutuhan operasional yang sesuai, agar bisnis dapat berjalan lebih efisien, konsisten, dan siap melangkah ke tahap berikutnya.